Dengan masuknya injil ke Daerah Batak di Tapanuli Sumatera Utara terjadi perubahan besar pada tata kehidupan, perilaku dan cakrawala penduduk Batak. Jika tua-tua dan bangsawan batak hanya mengenal aksara batak yang erat kaitannya dengan adat istiadat Batak dan kehidupan sehari-hari termasuk dalihan natolu yang menjadi dasar struktur masyarakat Batak, maka para penginjil mengubah total pandangan masyarakat Batak terutama para pemimpinnya yang tadinya tidak mengenal huruf menjadi mengenal huruf. Kekristenan peduli akan kesejahteraan, kemajuan, dan peningkatan kehidupan sehingga dengan demikian masyarakat batak sangat mendambakan pendidikan mulai dari tingkat yang paling rendah hingga tingkat paling tinggi dan dalam berbagai bidang seperti bidang sosial budaya, teknologi, ekonomi, hukum, pemerintahan, militer, dan keguruan. Sehingga boleh dikatakan tidak ada bidang yang tidak terjamah putra-putri batak yang tersebar diseluruh nusantara.
Demikianlah para pemuda Batak yang tiba dan bermukim di Bandung khususnya dan di pulau Jawa pada umumnya pendidikan dan pekerjaan mereka, mereka berada jauh di kampung halaman namun mereka tetap rindu persatuan menggunakan bahasa Batak. Demikian juga di dalam kebaktian-kebaktian Kristen yang mula-mula mereka ikuti di gereja-gereja yang berbahasa Indonesia terpikir juga untuk mengadakan kebaktian di dalam bahasa daerah Batak.
Peningkatan intelektual melalui pendidikan yang beraneka ragam dan berbagai tingkat itu menjadi landasan pula untuk menyatukan visi dan misi para pemuda termasuk di kota Bandung. Kehadiran para siswa dan mahasiswa Batak di kota Bandung menjadi awal dari terbentuknya masyarakat Batak dengan kota ini. Memang disamping para siswa dan mahasiswa Batak ada juga keluarga Batak yang bermukim di Bandung karena pindah pekerjaan dari kota lain ke kota Bandung terutama sebagai pegawai atau karyawan.
Pada mulanya keluarga-keluarga Batak Kristen masih sedikit jumlahnya dan pemuda-pemuda Batak Kristen masuk menjadi anggota GKP (Gereja Kristen Pasundan) dan mengikuti kegiatan gerejawi GKP. Namun kemudian timbul keinginan yang segera terealisasi untuk menelaah injil dengan menggunakan bahasa daerah Batak. Mereka masih merasa bahwa saat mendalami Bibel dalam bahasa Batak, ucapan yang ada lebih mendalam sehingga mereka mengajukan untuk secara berkala mengadakan kebaktian khusus di dalam bahasa Batak. Tata-tata acara atau liturgi dalam bahasa Batak merupakan salah satu pemicu yang kuat untuk mendirikan sebuah jemaat berbahasa Batak yang menjadi cikal bakal HKBP Bandung.
Pada bulan Oktober 1932 Pemuda Kristen Batak mengadakan konfrensi yang bertempat di Padalarang yang menghasilkan wadah bagi pemuda-pemuda Batak bernama NKB (Naposobulung Kristen Batak) bertujuan untuk menuntun para pemuda Kristen Batak dalam kehidupan Kristiani. Pada saat itu terpilihlah Conradin Sitompul menjadi ketua NKB yang pertama. Conradin berusaha membimbing para pemuda Batak di Bandung dan sering bertindak memimpin kebaktian minggu bagi para pemuda yang berdiam di Bandung dan sekitarnya. NKB inilah yang turut mendorong keluarga-keluarga Batak dan pemuda-pemuda Kristen Batak lainnya untuk mendirikan jemaat HKBP Bandung permulaan. Lalu tersebutlah Keluarga Wismar Lumbantobing yang pindah dari Medan ke Bandung. Beliau adalah karyawan PTT(Pos, Telepon, dan Telegraph). Keluarga Tobing inilah yang bergabung dengan keluarga-keluarga Batak yang sudah ada di Bandung ini beserta para pemuda Kristen termasuk keluarga Mateus Nababan, Gustav Adolf Tambunan, Yohannes Lumban Toruan, Erkelaus Sianturi, Domitian Aritonang, Jeremias Pohan Sianiapar, Mr Todung Sutan Gunung Mulia, dan sejumlah pemuda antara lain Conradin Sitompul, Marnixius Hutasoit, Albinus Simanjuntak, dan Eliab Siagian.
Didorong kerinduan mereka untuk melaksanakan kebaktian dan pelayanan-pelayanan kerohanian yang berbahasa Batak, maka mereka sepakat membentuk jemaat HKBP Bandung walaupun jumlah keluarga masih dapat dihitung dengan jari (± 10 keluarga). Keinginan didukung sepenuhnya oleh NKB yang diketuai oleh Conradin Sitompul. Mereka mengirimkan utusan ke Jakarta untuk menemani pendeta dan majelis Ressort HKBP yang sebelumnya sudah berdiri di Jakarta, Pdt. Peter Tambunan, Pendeta HKBP Ressort Jakarta. Beliau menerima utusan tersebut dan memberi petunjuk serta pengarahan kepada tim mengenai persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendirikan suatu jemaat baru sesuai dengan aturan dan peraturan HKBP. Tim juga mengemukakan hasrat yang sama kepada majelis GKP (Gereja Kristen Pasundan) tempat mereka selama ini menumpang untuk mengadakan kebaktian. Majelis GKP secara moral mendukung sepenuhnya hasrat tersebut. Atas petunjuk-petunjuk tersebut di atas terhadap jemaat HKBP Bandung dan mereka mengadakan kebaktian pertama pada tanggal 16 Juni 1935 salah satu ruangan Christihijke HIS Jl. Pasirkaliki Bandung, Rapat anggota jemaat yang terdiri dari 10 keluarga dan para pemuda sepakat memilih bapak Wismar Lumban Tobing sebagai Guru Huria (VOORHANGER) dibantu oleh beberapa orang sintua/majelis.
Sebelum terbit Aturan dan Peraturan HKBP 1972-1982 semua yang memimpin jemaat HKBP disebut Guru Huria atau VOORHANGER, baik yang berpendidikan guru huria lulusan sekolah Guru Seminari Sipaholon, maupun yang diangkat dari sintua merupakan tenaga sukarela (volunteer). Selanjutnya pada bulan-bulan berikutnya Jemaat HKBP Bandung pindah dan meminjam salah satu ruangan dari kelas Christijke MULD Jl. Bahureksa Bandung. Itulah sebabnya tanggal 16 Juni 1935 ditetapkan sebagai hari jadi pertama jemaat HKBP Bandung dan pada tahun 2000 ini akan diperingati menjadi Jubileum 65 Tahun HKBP Bandung.

